Monday, June 3, 2019

ANTARA PROSES KREATIF PENYAIR YOGYA DAN PUISI SELERA PUBLIK



KARYA sastra khususnya puisi, saat ini mudah dipahami. Sekali membaca sudah langsung paham tentang apa yang dimaksud penyair. Bahasa yang mudah, cair, naratif, dan pragmatis. Hal itu menjadi kunci karya sastra untuk disajikan dan dapat dengan mudah diterima pembaca. Terutama karya sastra puisi. Puisi yang identik dengan kesan berat dan tidak mudah dipahami menjadi hilang sama sekali.
Menjamurnya puisi di dunia maya menjadi fenomena yang ditunjukkan oleh penyair sebagai bentuk eksistensi. Tanpa memertimbangkan kualitas dan sekadar memburu kuantitas saja. Sehari bisa dua hingga lima puisi yang dihasilkan. Namun seperti yang dikemukakan di muka, bahasa cair, naratif, pragmatis, dan kurang bermakna.
Jika dilihat dari perjalanan para penyair masa sebelumnya, puisi tak semudah sekarang. Mereka butuh waktu minimal satu minggu untuk benar-benar menghasilkan satu puisi yang baik, bermakna filosofis, dan merupakan hasil kontemplasi atau perenungan mendalam. Tak heran jika penyair waktu lalu hafal dengan puisinya, tersebab proses penciptaannya benar-benar hasil perenungan dan pemilihan kata yang mendalam.

Umbu Landu Paranggi

Jika merujuk sastra lokal Yogyakarta pada angkatan PSK (Persada Studi Klub), yang didirikan oleh  Umbu Landu Paranggi, Iman Budi Santosa, Ragil Suwarno Pragolopati, Teguh Ranusastra Asmara, bahasa puisi mereka sangat kental. PSK ini melahirkan penyair besar seperti Emha Ainun Najib, Linus Suryadi AG, Suminto A Sayuti, Erik Endranatan, Musthofa W Hasyim, Fauzi Abdul Salam, dan masih banyak lagi. Hingga saat ini, penyair PSK yang masih menulis puisi adalah Iman Budi Santosa,  Musthofa W Hasyim, Fauzi Abdul Salam.

Linus Suryadi AG

Sebagai contoh, kita coba amati puisi Linus Suryadi AG yang sangat kental dan penuh makna di bawah ini:

Sinar Bintang Menyentuh Rumpun Bunga

sinar bintang menyentuh rumpun bunga
halaman belakang, kolam, memantulkan cahaya
menjadi rahasia pandang, menjadi bayang angan
kukira ada wajahmu elok tertinggal di sana
ada angin mengendap, lewat, ada wangian menyergap
terasa dingin dan asing yang kian lengkap
aku berpaling muka, aku berjaga pula
tapi tak ada singgah pesanmu bersama-sama

1974

Lahirnya penyair dari PSK diikuti komunitas sastra yang bermunculan di Yogyakarta. Angkatan yang disebut dengan Angkatan komunitas dan sanggar. Pada angkatan ini menjamur komunitas-komunitas dan sanggar di berbagai kampus, seperti UNY dan UGM. Pada angkatan ini  melahirkan penyair Bambang Widiatmoko, Budi Nugroho, Andrik Purwasito, Edy Lirysacra, Marjudin Suaeb, Krishna Mihardja, Ahmadun Y Herfanda, Ida Ayu Galuh Pethak, Nana Ernawati, Dhenok Kristianti, Indra Tranggono, Joko Pinurbo, dll.

Joko Pinurbo

Joko Pinurbo yang kian eksis hingga saat ini. Puisi-puisinya memiliki ciri khas. Maknanya juga mendalam meskipun kadang-kadang mnggunakan pemilihan kata sederhana. Salah satu puisi yang sangat ringan tapi penuh makan, sebagai berikut.

Penyair Kecil
untuk Nur

Penyair kecil itu sangat sibuk merangkai-rangkai kata
dan dengan berbagai cara menyusunnya menjadi
sebuah rumah yang akan dipersembahkan kepada ibunya.
"Kita belum punya rumah kan, Bu. Nah, Ibu tidur saja
di dalam rumah buatanku. Aku akan berjaga di teras
semalaman dan semuanya akan aman-aman saja."

Ketika kau bangun di subuh yang hening itu, kau tertawa
melihat penyair-kecilmu tertidur kedinginan
di teras rumahnya, ditunggui Donald dan Bobo,
pengawal-pengawalnya yang setia.

(2002)

Hingga akhirnya pada tahun 80an lahirlah penyair Angkatan 80. Angkatan ini ditandai dengan adanya Pengadilan Puisi. Dimana saat itu, puisi akan diadili oleh penyair lainnya. Hingga dianggap puisi itu betul-betul bagus.
Pada angkatan ini ada Adi Wicaksono, Hamdy Salad, Ahmad Subanudin Alwi, Sri Wintala Achmad, Mathori A Elwa, Otto Sukatno CR, Abidah El Khalieqy, Dorothea Rosa Herliany, Ulfatin Ch, Rina Patih, dll. Angkatan ini didominasi oleh mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Setelah angkatan 80an kemudian muncul HISMI di tahun 90an,   Himpunan Sastrawan Muda Indonesia. HISMI melahirkan Asa Jatmiko, Ahmad Saekhu, Teguh Winarso As, Raudal Tanjung Banua, Satmoko Budi Santoso, Kuswaidi Safi'ie, Aning Ayu Kusuma, Evi Idawati, Ita Dian Novita, Akhmad Muhaimin Azet, dll. Pada angkatan ini lahir antologi Embun Tajjali dan diadakannya Kemah Sastra yang dihadiri para Penyair Indonesia yang diadakan di Parangkusumo.
Secara umum, jika dilihat secara saksama, puisi dari angkatan PSK hingga HISMI bentuknya beragam tapi tidak banyak kritik sosial. Hal itu bisa dimaklumi karena tahun-tahun tersebut merupakan  orde dimana setiap kritik akan  bisa mencelakai si pengkritik itu sendiri.
Semisal ada kritikpun hanya sindiran halus tak terlalu keras. Justru cenderung bersifat sufistik menuju arah religiusitas. Dengan makna yang mendalam.
Bedanya dengan puisi sekarang, cenderung naratif, cair, mudah dipahami. Hal ini dimungkinkan karena proses penciptannya berbeda.
Dulu satu puisi bisa menghabiskan waktu hingga satu minggu. Penuh perenungan, kontemplasi.
Beda dengan sekarang, kreator dengan sangat mudah dan cepat dalam menulis puisi. Untuk segera dipublikasikan, tidak melewati proses editing. Dimana hal itu sangat penting dalam menciptakan puisi yang berkualitas.
Karya sastra puisi tersebut  akhirnya hanya memenuhi selera publik yang menginginkan segala sesuatu serba cepat dan instan. Hal inipun dipengaruhi kehidupan saat ini. Zaman teknologi maju, segalanya serba cepat. Dalam hitungan detik seluruh dunia mengetahui peristiwa yang terjadi di belahan dunia lainnya.
Dulu memaknai puisi sangat susah. Membaca dua atau tiga kali baru bisa memahami isi puisi tersebut. Semakin banyak orang mengeksplorasi puisi tersebut  dengan berbagai makna, puisi tersebut semakin dianggap bagus sebagai karya sastra.
Berbeda dengan karya sastra puisi sekarang, Sekali membaca sudah langsung paham. Ironisnya, pembaca langsung menilai bahwa puisi pragmatis yang langsung bisa dipahami tersebut dianggap bagus karena langsung bisa dicerna. Mengena pada konteks sosial kemasyarakatan.
Konteks sosial saat ini yang dipahami sangat pragmatis pula. Dulu, penyair memiliki idealisme dalam mncipta puisi. Yaitu puisi itu dicipta memang untuk puisi. Bentuk kepuasan untuk diri sendiri, dipahami atau tidak oleh pembaca, tak peduli.
Sekarang, terpenting mudah dipahami. Namun akhirnya makna filosofis puisi tersebut hilang. Idealisme puisi itu sendiri tidak ada. Puisi bukan lagi sebagai karya sastra namun sekadar pemenuhan selera publik  saja. Berorientasi pada permintaan  publik. Nilai dan makna puisi itu sendiri jadi hilang.
Hilangnya bobot puitik tersebut terjadi ketika kreator tak memertimbangkan kontemplasi filosofis, tentang permenungan filsafat. Yaitu sarat dengan permenungan, yang bisa dilakukan dengan cara diam. Tak sembarangan menggunakan kata. Harus ada pertimbangan makna kata. Dengan cara mengendapkan dulu puisi yang ditulis. Diamati, maknanya apa. Baru dibenahi menjadi puisi sebenarnya. Jangan sampai proses hanya  langsung menulis apa yang dilihat, ditulis begitu saja mengabaikan makna filosofis dan simbolik di dalamnya. [Ummi Azzura Wijana]



No comments:

Post a Comment