KARYA
sastra khususnya puisi, saat ini mudah dipahami. Sekali membaca sudah langsung
paham tentang apa yang dimaksud penyair. Bahasa yang mudah, cair, naratif, dan
pragmatis. Hal itu menjadi kunci karya sastra untuk disajikan dan dapat dengan
mudah diterima pembaca. Terutama karya sastra puisi. Puisi yang identik dengan
kesan berat dan tidak mudah dipahami menjadi hilang sama sekali.
Menjamurnya
puisi di dunia maya menjadi fenomena yang ditunjukkan oleh penyair sebagai
bentuk eksistensi. Tanpa memertimbangkan kualitas dan sekadar memburu kuantitas
saja. Sehari bisa dua hingga lima puisi yang dihasilkan. Namun seperti yang
dikemukakan di muka, bahasa cair, naratif, pragmatis, dan kurang bermakna.
Jika
dilihat dari perjalanan para penyair masa sebelumnya, puisi tak semudah
sekarang. Mereka butuh waktu minimal satu minggu untuk benar-benar menghasilkan
satu puisi yang baik, bermakna filosofis, dan merupakan hasil kontemplasi atau
perenungan mendalam. Tak heran jika penyair waktu lalu hafal dengan puisinya,
tersebab proses penciptaannya benar-benar hasil perenungan dan pemilihan kata
yang mendalam.
 |
| Umbu Landu Paranggi |
Jika
merujuk sastra lokal Yogyakarta pada angkatan PSK (Persada Studi Klub), yang
didirikan oleh Umbu Landu Paranggi, Iman
Budi Santosa, Ragil Suwarno Pragolopati, Teguh Ranusastra Asmara, bahasa puisi
mereka sangat kental. PSK ini melahirkan penyair besar seperti Emha Ainun
Najib, Linus Suryadi AG, Suminto A Sayuti, Erik Endranatan, Musthofa W Hasyim,
Fauzi Abdul Salam, dan masih banyak lagi. Hingga saat ini, penyair PSK yang
masih menulis puisi adalah Iman Budi Santosa,
Musthofa W Hasyim, Fauzi Abdul Salam.
 |
| Linus Suryadi AG |
Sebagai
contoh, kita coba amati puisi Linus Suryadi AG yang sangat kental dan penuh
makna di bawah ini:
Sinar Bintang
Menyentuh Rumpun Bunga
sinar bintang
menyentuh rumpun bunga
halaman
belakang, kolam, memantulkan cahaya
menjadi rahasia
pandang, menjadi bayang angan
kukira ada
wajahmu elok tertinggal di sana
ada angin
mengendap, lewat, ada wangian menyergap
terasa dingin
dan asing yang kian lengkap
aku berpaling
muka, aku berjaga pula
tapi tak ada
singgah pesanmu bersama-sama
1974
Lahirnya
penyair dari PSK diikuti komunitas sastra yang bermunculan di Yogyakarta.
Angkatan yang disebut dengan Angkatan komunitas dan sanggar. Pada angkatan ini
menjamur komunitas-komunitas dan sanggar di berbagai kampus, seperti UNY dan
UGM. Pada angkatan ini melahirkan
penyair Bambang Widiatmoko, Budi Nugroho, Andrik Purwasito, Edy Lirysacra,
Marjudin Suaeb, Krishna Mihardja, Ahmadun Y Herfanda, Ida Ayu Galuh Pethak,
Nana Ernawati, Dhenok Kristianti, Indra Tranggono, Joko Pinurbo, dll.
 |
| Joko Pinurbo |
Joko
Pinurbo yang kian eksis hingga saat ini. Puisi-puisinya memiliki ciri khas.
Maknanya juga mendalam meskipun kadang-kadang mnggunakan pemilihan kata
sederhana. Salah satu puisi yang sangat ringan tapi penuh makan, sebagai
berikut.
Penyair Kecil
untuk Nur
Penyair kecil
itu sangat sibuk merangkai-rangkai kata
dan dengan
berbagai cara menyusunnya menjadi
sebuah rumah
yang akan dipersembahkan kepada ibunya.
"Kita belum
punya rumah kan, Bu. Nah, Ibu tidur saja
di dalam rumah
buatanku. Aku akan berjaga di teras
semalaman dan
semuanya akan aman-aman saja."
Ketika kau
bangun di subuh yang hening itu, kau tertawa
melihat
penyair-kecilmu tertidur kedinginan
di teras
rumahnya, ditunggui Donald dan Bobo,
pengawal-pengawalnya
yang setia.
(2002)
Hingga
akhirnya pada tahun 80an lahirlah penyair Angkatan 80. Angkatan ini ditandai
dengan adanya Pengadilan Puisi. Dimana saat itu, puisi akan diadili oleh
penyair lainnya. Hingga dianggap puisi itu betul-betul bagus.
Pada
angkatan ini ada Adi Wicaksono, Hamdy Salad, Ahmad Subanudin Alwi, Sri Wintala
Achmad, Mathori A Elwa, Otto Sukatno CR, Abidah El Khalieqy, Dorothea Rosa
Herliany, Ulfatin Ch, Rina Patih, dll. Angkatan ini didominasi oleh mahasiswa
IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Setelah
angkatan 80an kemudian muncul HISMI di tahun 90an, Himpunan Sastrawan Muda Indonesia. HISMI
melahirkan Asa Jatmiko, Ahmad Saekhu, Teguh Winarso As, Raudal Tanjung Banua,
Satmoko Budi Santoso, Kuswaidi Safi'ie, Aning Ayu Kusuma, Evi Idawati, Ita Dian
Novita, Akhmad Muhaimin Azet, dll. Pada angkatan ini lahir antologi Embun
Tajjali dan diadakannya Kemah Sastra yang dihadiri para Penyair Indonesia yang
diadakan di Parangkusumo.
Secara
umum, jika dilihat secara saksama, puisi dari angkatan PSK hingga HISMI
bentuknya beragam tapi tidak banyak kritik sosial. Hal itu bisa dimaklumi
karena tahun-tahun tersebut merupakan
orde dimana setiap kritik akan
bisa mencelakai si pengkritik itu sendiri.
Semisal
ada kritikpun hanya sindiran halus tak terlalu keras. Justru cenderung bersifat
sufistik menuju arah religiusitas. Dengan makna yang mendalam.
Bedanya
dengan puisi sekarang, cenderung naratif, cair, mudah dipahami. Hal ini
dimungkinkan karena proses penciptannya berbeda.
Dulu
satu puisi bisa menghabiskan waktu hingga satu minggu. Penuh perenungan,
kontemplasi.
Beda
dengan sekarang, kreator dengan sangat mudah dan cepat dalam menulis puisi.
Untuk segera dipublikasikan, tidak melewati proses editing. Dimana hal itu
sangat penting dalam menciptakan puisi yang berkualitas.
Karya
sastra puisi tersebut akhirnya hanya
memenuhi selera publik yang menginginkan segala sesuatu serba cepat dan instan.
Hal inipun dipengaruhi kehidupan saat ini. Zaman teknologi maju, segalanya
serba cepat. Dalam hitungan detik seluruh dunia mengetahui peristiwa yang
terjadi di belahan dunia lainnya.
Dulu
memaknai puisi sangat susah. Membaca dua atau tiga kali baru bisa memahami isi
puisi tersebut. Semakin banyak orang mengeksplorasi puisi tersebut dengan berbagai makna, puisi tersebut semakin
dianggap bagus sebagai karya sastra.
Berbeda
dengan karya sastra puisi sekarang, Sekali membaca sudah langsung paham.
Ironisnya, pembaca langsung menilai bahwa puisi pragmatis yang langsung bisa
dipahami tersebut dianggap bagus karena langsung bisa dicerna. Mengena pada
konteks sosial kemasyarakatan.
Konteks
sosial saat ini yang dipahami sangat pragmatis pula. Dulu, penyair memiliki
idealisme dalam mncipta puisi. Yaitu puisi itu dicipta memang untuk puisi.
Bentuk kepuasan untuk diri sendiri, dipahami atau tidak oleh pembaca, tak
peduli.
Sekarang,
terpenting mudah dipahami. Namun akhirnya makna filosofis puisi tersebut
hilang. Idealisme puisi itu sendiri tidak ada. Puisi bukan lagi sebagai karya
sastra namun sekadar pemenuhan selera publik
saja. Berorientasi pada permintaan
publik. Nilai dan makna puisi itu sendiri jadi hilang.
Hilangnya
bobot puitik tersebut terjadi ketika kreator tak memertimbangkan kontemplasi
filosofis, tentang permenungan filsafat. Yaitu sarat dengan permenungan, yang
bisa dilakukan dengan cara diam. Tak sembarangan menggunakan kata. Harus ada
pertimbangan makna kata. Dengan cara mengendapkan dulu puisi yang ditulis.
Diamati, maknanya apa. Baru dibenahi menjadi puisi sebenarnya. Jangan sampai
proses hanya langsung menulis apa yang
dilihat, ditulis begitu saja mengabaikan makna filosofis dan simbolik di
dalamnya. [Ummi Azzura Wijana]