Thursday, June 6, 2019

PUISI NIA SAMSIHONO



Nia Samsihono
PULANG

Di manakah tempatku pulang?
Pada rumah dengan halaman berbunga
Di beranda, kursi menyapa
Dari jendela yang terbuka terdengar tawa

Di manakah tempatku pulang?
Pada pelukan yang membuatku nyaman
Tempat aku bertutur tentang apa 
Meringankan beban berat pikiran

Di manakah tempatku pulang?
Pada gairah tarikan tatapanmu
Yang mengusir penat berlalu
Lalu hangat tanganku dalam genggamanmu

Di manakah tempatku pulang?
Ada di hatimu terdalam
Ada di rumahmu yang membuatku diam
Menghirup udara segar dalam-dalam

Jakarta, 2019

Wednesday, June 5, 2019

PUISI-PUISI YANWI MUDRIKAH

Yanwi Mudrikah
Selamat Pagi, Kekasih

pohon-pohon menyaksikan pertemuan kita
di antara kelelahan yang tertinggal
orang datang dan pergi setelah senja menghilang

selamat pagi, kekasih
hujan masih mengguyur sawah dan kebun milik tetangga
lalu, anak-anak desa bercerita tentang keong
dan orang-orangan sawah

selamat pagi, kekasih
kita terbaring dari gemuruh hujan
petir menyambar
dan angin yang gemetar

selamat pagi, kekasih
narasi sekian tahun masih aku jaga
hingga sejarah akan tuliskan kita

darmakradenan, 12 maret 2019


Selamat siang, kekasih

kita sibuk dari kemacetan
mini bus, angkot dan go-jek berjejalan

orang-orang mengejar rupiah
demi keluarga di rumah

tong kosong nyaring bunyinya
tong kosong bunyinya nyaring

rupiah…
rupiah…
rupiah…

selamat siang, kekasih

darmakradenan, 12 maret 2019



Selamat Malam, kekasih

lampu neon tiba-tiba mati
aku terbangun dari hiruk-pikuk kerjaan
kerjaan kelar, rupiah dibayarkan

selamat malam, kekasih
angin melipat-lipat kertas dan buku-buku
segelas kopi kuseruput lagi,

selamat malam, kekasih
kurayakan rindu yang paling asih

darmakradenan, 12 maret 2019




Yanwi Mudrikah, lahir di Darmakradenan, Ajibarang, pada 12 Agustus 1989. Aktif menulis sastra sejak tahun 2010, saat masih duduk di bangku kuliah. Karya-karyanya terpublikasikan di Suara Pembaruan (Jakarta), Minggu Pagi (Yogyakarta), Koran Merapi (Yogyakarta), Satelitpost (Purwokerto), Radar Banyumas (Purwokerto), Pikiran Rakyat (Bandung), Flores Sastra (Flores), Suara Merdeka (Semarang), Solo Pos (Solo), Jurnal Sajak (Jakarta), Indopos (Jakarta), Majalah Mayara (Surabaya), Harian Tangsel (Jakarta), Banjarmasinpost (Banjarmasin), Harian Waktu (Bandung), Majalah Embun (Surakarta), Riaupos (Riau), NusantaraNews.co, www.litera.co.id, SastraPurnama.com, Harakatuna.com, Radar Bojonegoro (Jawa Timur), Majalah Ancas (Banyumas, Jawa Tengah) dan Media Indonesia (Jakarta), dll.
Karya puisinya juga terdokumentasi dalam Antologi Puisi Hari Puisi Indonesia 2016 216 Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi Indonesia, Yayasan Sagang 2016); Antologi Di Bawah Sadar Di Atas Sadar (Forum BKI, 2013); Antologi Cahaya Tarbiyah (Forum Mahasiswa Tarbiyah, 2013); Creative Writing (STAIN Press, 2013); Kampus Hijau (STAIN Press, 2015); Pilar Puisi 2 (STAIN Press, 2015); Pilar Puisi 3 (Sekolah Sastra Peradaban, 2016); Rumah Penyair 3 (Kepompong Press, 2016); Seberkas Cinta Antologi Puisi 89 Penyair Indonesia (Digna Pustaka, 2016); Antologi Puisi Membaca Kartini Memaknai Emansipasi dan Kesetaraan Gender (Komunitas Joebawi, 2016); dan Beberapa sajaknya lolos dalam Indonesian Literary Collective (ILIC, Jerman 2014); Senyuman Lembah Ijen Antologi Puisi Nusantara (TareSi Publisher, 2018);  Perempuan Memandang Dunia Kumpulan Puisi Perempuan Penyair Nusantara (Tema Litera, 2018); Antologi Puisi Bengkel Sastra Taman Maluku Menjemput Rindu Di Taman Maluku (Bengkel Sastra Taman Maluku Semarang, 2018); A Skyful of Rain Antologi Puisi Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2018 (Tahura Media, 2018). Dan buku puisi pertamanya Rahim Embun (2013); buku puisi keduanya Menjadi Tulang Rusukmu (2016);dan buku puisi ketiganya Menjadi Ibu (2019).
Riwayat pendidikannya, untuk Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertamanya diselesaikan di desa kelahirannya. Kemudian, ia melanjutkan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Purwokerto, sempat tinggal di Pondok Pesantren Al-Amin Mersi, Purwokerto. Pada tahun 2011 ia menyelesaikan S-1 (S.Sos.I) di STAIN Purwokerto—sekarang IAIN Purwokerto jurusan Dakwah/ Komunikasi Penyiaran Islam. Pada tahun 2015 ia menyelesaikan S-2 (M.Pd) di Universitas Muhammadiyah Purwokerto jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI).
Saat ini berprofesi sebagai dosen terbang (pengajar tamu) di perguruan tinggi swasta di Purwokerto dan Cilacap. Selain itu, dia mengasuh dan menggerakkan Komunitas Sastra Gubug Kecil Indonesia, di Ajibarang-Banyumas (Jawa Tengah). Telp. 081 290 386 389. e-mail : yanwimudrikah@gmail.com. FB. Yanwi Mudrikah.


PUISI JULIA UTAMI

Dok. Julia Utami

Julia Utami
SECANGKIR KOPI PAHIT

aku menunggu senja pulang
menemaniku menikmati secangkir kopi

gemerincing hati mencari pahatan kata
sementara kau anggun menawarkan duka
yang mengintipku diam-diam

antara kau dan aku tak juga bersedekap
memanjakan bukit rindu yang
kau tinggal tanpa ingat puncaknya

entahlah, apakah senja masih berwajah jingga
hingga rebah di ranjang di pelukan malam

biarlah tetap aku seruput kopi pahitku
sebelum menghadik diriku sendiri

Tuesday, June 4, 2019

MALAM TAKBIRAN [SRI WINTALA ACHMAD]


https://www.indopos.co.id


Sri Wintala Achmad
MALAM TAKBIRAN

Takbir yang membelah desa dan kota
segairah kembang api membakar langit malam
lantas siapa tamu yang menunggu di depan pintu
wajahnya dingin. Ngingatkan aku pada Tuhan
Cilacap, 2 Juli 2015


MALAM LEBARAN

Mengubur bulan di pemakaman
Tanpa kafan tanpa pocong di kepala
Sebagaimana kau, saat memperabukan dosa
lewat api yang menyala dari jabat tangan telanjang
Cilacap, 3 Juli 2015


MALAM SYAWALAN

Tangan-tangan dijabatkan
ampunan khusyuk dilafalkan
tapi pisau lipatmu masih terselip
: rapi tersembunyi di pinggang kanan

Cilacap, 4 Juli 2015


MUSIM MUDIK

Serupa burung pulang ke sarang
kau singgahi rumah asal, buat
mengenang manisnya masa kanak
: terampok di tengah kota yang bengis

Cilacap, 5 Juli 2015

PUISI ERNI NOVALISA



Erni Novalisa
WE CAN

Hening berkutat dalam angka
Berpeluh raga menatap kaca
Meniti jejak menggapai bintang
Di setiap titik akan teraih

Selendang terbang menari di angkasa
Satu persatu terwarnai bagai pelangi
No children left behind
No teacher left behind
And...
We Can

Rakor internal Dit. PSMP
Santika Hotel, 19 Februari 2019

PUISI RITA URBANINGRUM


Rita Orbaningrum
Sang waktu 

Detik-detik berlalu
Dengan kepasrahan. 
Kepedulian,tanpa pernah tahu
Singgah pada lorong masa,
yang panjang tak berujung.

Keraguan itu selalu ada
Menghadang lajunya harapan. 
Menyentuh nurani terdalam
Di antara kebisuan yang mencekam.

Hanya denyut nadi
Yang terdengar saat terjaga.
Hanya dengkur halus yang muncul saat tidur.

Semua tetap melaju 
Dalam iringan sang waktu.

Muntok penghujung February 2018

PUISI JULIA UTAMI


Julia Utami
Malam melarut

Aku akan pasang lentera sayang,
Aku takut gelapnya malam membiusku sampai kemah kita.
Aku bahkan berharap satu kunang-kunang saja menari di depanku. Kubersyukur kau
paham beri pertanda.

Melarutlah angan,
Kuaman dalam rangkum rindumu.
Sementara di luar rinai hujan riuh sendiri.
Kau juga tahu, hawa dingin yang diam-diam menelusup akan menjadi perjuangan
beratku untuk tak memanggilmu lagi. Panggilan yang lebih mirip teriakan pilu yang
kehabisan stok air mata.

Aku harus kuat,
Kutaruh sayap harap tergantung 3 inci di depan mata dan di depan keningku.
Kuharus kuat
Berharap ada pengurai benang kusut. Penanggalan pun yang melingkari dirinya bulan
dan tahunkan berganti. Camkan sebagai pucuk rindu yang mengentalkan darah di hati
yang mukut terjebak ayunan mimpi.
Camkanlah sayang, aku segera kembali.

27102917

Monday, June 3, 2019

ANTARA PROSES KREATIF PENYAIR YOGYA DAN PUISI SELERA PUBLIK



KARYA sastra khususnya puisi, saat ini mudah dipahami. Sekali membaca sudah langsung paham tentang apa yang dimaksud penyair. Bahasa yang mudah, cair, naratif, dan pragmatis. Hal itu menjadi kunci karya sastra untuk disajikan dan dapat dengan mudah diterima pembaca. Terutama karya sastra puisi. Puisi yang identik dengan kesan berat dan tidak mudah dipahami menjadi hilang sama sekali.
Menjamurnya puisi di dunia maya menjadi fenomena yang ditunjukkan oleh penyair sebagai bentuk eksistensi. Tanpa memertimbangkan kualitas dan sekadar memburu kuantitas saja. Sehari bisa dua hingga lima puisi yang dihasilkan. Namun seperti yang dikemukakan di muka, bahasa cair, naratif, pragmatis, dan kurang bermakna.
Jika dilihat dari perjalanan para penyair masa sebelumnya, puisi tak semudah sekarang. Mereka butuh waktu minimal satu minggu untuk benar-benar menghasilkan satu puisi yang baik, bermakna filosofis, dan merupakan hasil kontemplasi atau perenungan mendalam. Tak heran jika penyair waktu lalu hafal dengan puisinya, tersebab proses penciptaannya benar-benar hasil perenungan dan pemilihan kata yang mendalam.

Umbu Landu Paranggi

Jika merujuk sastra lokal Yogyakarta pada angkatan PSK (Persada Studi Klub), yang didirikan oleh  Umbu Landu Paranggi, Iman Budi Santosa, Ragil Suwarno Pragolopati, Teguh Ranusastra Asmara, bahasa puisi mereka sangat kental. PSK ini melahirkan penyair besar seperti Emha Ainun Najib, Linus Suryadi AG, Suminto A Sayuti, Erik Endranatan, Musthofa W Hasyim, Fauzi Abdul Salam, dan masih banyak lagi. Hingga saat ini, penyair PSK yang masih menulis puisi adalah Iman Budi Santosa,  Musthofa W Hasyim, Fauzi Abdul Salam.

Linus Suryadi AG

Sebagai contoh, kita coba amati puisi Linus Suryadi AG yang sangat kental dan penuh makna di bawah ini:

Sinar Bintang Menyentuh Rumpun Bunga

sinar bintang menyentuh rumpun bunga
halaman belakang, kolam, memantulkan cahaya
menjadi rahasia pandang, menjadi bayang angan
kukira ada wajahmu elok tertinggal di sana
ada angin mengendap, lewat, ada wangian menyergap
terasa dingin dan asing yang kian lengkap
aku berpaling muka, aku berjaga pula
tapi tak ada singgah pesanmu bersama-sama

1974

Lahirnya penyair dari PSK diikuti komunitas sastra yang bermunculan di Yogyakarta. Angkatan yang disebut dengan Angkatan komunitas dan sanggar. Pada angkatan ini menjamur komunitas-komunitas dan sanggar di berbagai kampus, seperti UNY dan UGM. Pada angkatan ini  melahirkan penyair Bambang Widiatmoko, Budi Nugroho, Andrik Purwasito, Edy Lirysacra, Marjudin Suaeb, Krishna Mihardja, Ahmadun Y Herfanda, Ida Ayu Galuh Pethak, Nana Ernawati, Dhenok Kristianti, Indra Tranggono, Joko Pinurbo, dll.

Joko Pinurbo

Joko Pinurbo yang kian eksis hingga saat ini. Puisi-puisinya memiliki ciri khas. Maknanya juga mendalam meskipun kadang-kadang mnggunakan pemilihan kata sederhana. Salah satu puisi yang sangat ringan tapi penuh makan, sebagai berikut.

Penyair Kecil
untuk Nur

Penyair kecil itu sangat sibuk merangkai-rangkai kata
dan dengan berbagai cara menyusunnya menjadi
sebuah rumah yang akan dipersembahkan kepada ibunya.
"Kita belum punya rumah kan, Bu. Nah, Ibu tidur saja
di dalam rumah buatanku. Aku akan berjaga di teras
semalaman dan semuanya akan aman-aman saja."

Ketika kau bangun di subuh yang hening itu, kau tertawa
melihat penyair-kecilmu tertidur kedinginan
di teras rumahnya, ditunggui Donald dan Bobo,
pengawal-pengawalnya yang setia.

(2002)

Hingga akhirnya pada tahun 80an lahirlah penyair Angkatan 80. Angkatan ini ditandai dengan adanya Pengadilan Puisi. Dimana saat itu, puisi akan diadili oleh penyair lainnya. Hingga dianggap puisi itu betul-betul bagus.
Pada angkatan ini ada Adi Wicaksono, Hamdy Salad, Ahmad Subanudin Alwi, Sri Wintala Achmad, Mathori A Elwa, Otto Sukatno CR, Abidah El Khalieqy, Dorothea Rosa Herliany, Ulfatin Ch, Rina Patih, dll. Angkatan ini didominasi oleh mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Setelah angkatan 80an kemudian muncul HISMI di tahun 90an,   Himpunan Sastrawan Muda Indonesia. HISMI melahirkan Asa Jatmiko, Ahmad Saekhu, Teguh Winarso As, Raudal Tanjung Banua, Satmoko Budi Santoso, Kuswaidi Safi'ie, Aning Ayu Kusuma, Evi Idawati, Ita Dian Novita, Akhmad Muhaimin Azet, dll. Pada angkatan ini lahir antologi Embun Tajjali dan diadakannya Kemah Sastra yang dihadiri para Penyair Indonesia yang diadakan di Parangkusumo.
Secara umum, jika dilihat secara saksama, puisi dari angkatan PSK hingga HISMI bentuknya beragam tapi tidak banyak kritik sosial. Hal itu bisa dimaklumi karena tahun-tahun tersebut merupakan  orde dimana setiap kritik akan  bisa mencelakai si pengkritik itu sendiri.
Semisal ada kritikpun hanya sindiran halus tak terlalu keras. Justru cenderung bersifat sufistik menuju arah religiusitas. Dengan makna yang mendalam.
Bedanya dengan puisi sekarang, cenderung naratif, cair, mudah dipahami. Hal ini dimungkinkan karena proses penciptannya berbeda.
Dulu satu puisi bisa menghabiskan waktu hingga satu minggu. Penuh perenungan, kontemplasi.
Beda dengan sekarang, kreator dengan sangat mudah dan cepat dalam menulis puisi. Untuk segera dipublikasikan, tidak melewati proses editing. Dimana hal itu sangat penting dalam menciptakan puisi yang berkualitas.
Karya sastra puisi tersebut  akhirnya hanya memenuhi selera publik yang menginginkan segala sesuatu serba cepat dan instan. Hal inipun dipengaruhi kehidupan saat ini. Zaman teknologi maju, segalanya serba cepat. Dalam hitungan detik seluruh dunia mengetahui peristiwa yang terjadi di belahan dunia lainnya.
Dulu memaknai puisi sangat susah. Membaca dua atau tiga kali baru bisa memahami isi puisi tersebut. Semakin banyak orang mengeksplorasi puisi tersebut  dengan berbagai makna, puisi tersebut semakin dianggap bagus sebagai karya sastra.
Berbeda dengan karya sastra puisi sekarang, Sekali membaca sudah langsung paham. Ironisnya, pembaca langsung menilai bahwa puisi pragmatis yang langsung bisa dipahami tersebut dianggap bagus karena langsung bisa dicerna. Mengena pada konteks sosial kemasyarakatan.
Konteks sosial saat ini yang dipahami sangat pragmatis pula. Dulu, penyair memiliki idealisme dalam mncipta puisi. Yaitu puisi itu dicipta memang untuk puisi. Bentuk kepuasan untuk diri sendiri, dipahami atau tidak oleh pembaca, tak peduli.
Sekarang, terpenting mudah dipahami. Namun akhirnya makna filosofis puisi tersebut hilang. Idealisme puisi itu sendiri tidak ada. Puisi bukan lagi sebagai karya sastra namun sekadar pemenuhan selera publik  saja. Berorientasi pada permintaan  publik. Nilai dan makna puisi itu sendiri jadi hilang.
Hilangnya bobot puitik tersebut terjadi ketika kreator tak memertimbangkan kontemplasi filosofis, tentang permenungan filsafat. Yaitu sarat dengan permenungan, yang bisa dilakukan dengan cara diam. Tak sembarangan menggunakan kata. Harus ada pertimbangan makna kata. Dengan cara mengendapkan dulu puisi yang ditulis. Diamati, maknanya apa. Baru dibenahi menjadi puisi sebenarnya. Jangan sampai proses hanya  langsung menulis apa yang dilihat, ditulis begitu saja mengabaikan makna filosofis dan simbolik di dalamnya. [Ummi Azzura Wijana]



CERPEN MARIA WIDY ARYANI

SAKURA DI PUNDAK

https://spiceee.net

AKHIR Maret, cuaca mulai hangat di Tokyo. Aku masih melanjutkan lukisanku tanpa hirau sekeliling. Pandangan hanya kutumpahkan pada kanvas. Ketika angin menerpa, aku merasa ada bunga sakura menyentuh pundakku. Tapi kubiarkan. Aku masih asyik melukis. Satu lagi bunga sakura mencolek di tempat yang sama. Perasaanku, seperti tidak gugur dari pohon.
”Hai Son! Asyik sekali kamu melukis. Tak tahu ya aku melempar bunga sakura di pundakmu?” Suara seorang perempuan tiba-tiba memecah konsentrasiku. Aku menoleh.
”Oh, Ibu Ning. Kok ada di sini Bu?” tanyaku kaget.
Bu Ning istri pejabat di kantor kedutaan. Siapa tidak senang disapa ibu pejabat berparas cantik dan ramah. Dalam hati aku memujanya. Tidak hanya cantik, pengetahuannya tentang lukisan membuatku kagum. Hanya karena Bu Ning perempuan bersuami, aku menahan diri.
”Son, kamu bagus jika melukis dengan objek Bali. Aku suka!“
”Iya Bu, saya memang selalu tertarik dengan Bali. Di sini orang lebih mengenal Bali ketimbang Indonesia.“
Bu Ning. Kenapa rajin mengunjungi aku melukis? Mengapa pula aku senang bila dikunjungi beliau. Hanya ada rasa lain dari biasa, ketika kali ini BU Ning melempar bunga sakura di pundakku. Nampaknya Bu Ning juga tahu, bagi orang Jepang sakura merupakan simbol mengekspresikan ikatan antarmanusia. Keberanian, kesedihan, dan kegembiraan selalu beriringan menguasai hati manusia. Dan sakur menjadi metafora untuk ciri-ciri kehidupan yang tidak kekal.
”Son, besok kuundang makan malam di rumahku ya. Aku masak masakan Indonesia spesial buat kamu.“
”Wah, baik Bu. Saya akan datang. Terima kasih Bu, sudah mengundang saya.“
”Santai saja Son bicara denganku. Jangan formal kayak gitu. Kita ini teman. Panggil aku Ning. Oke!“
Aku hanya tersenyum dan mengangguk hormat. Bu Ning membalikkan badang dan pulang. Aku masih menatap punggungnya sampai hilang dari pandangan. Bu Ning mengundang aku makan malam, karena aku akan kembali ke Indonesia lusa. Hari ini lukisan harus sudah kusetor ke panitia untuk pameran. Beruntung aku sudah diakui masuk dalam jajaran pelukis internasional di Tokyo. Karena aku berkali-kali menjuarai lomba bergengsi untuk seni lukis di Tokyo.
***

BU Ning dan suaminya menyambut ramah kehadiranku. Makan malam berlangsung akrab. Dan kurasai mata Bu Ning selalu mencuri menatapku penuh arti. Aku suka tatapannya. Teduh, sejuk, aku tak mungkin bisa melupakan.
”Selamat jalan untuk besok, Son. Semoga selamat sampai ke tanah air. Kamu jadi kembali ke Magelang?” tanya suami Bu Ning.
“Iya Pak, saya akan tetap kembali ke kampung saya di Magelang. Saya ingin membuat rumah saya di Magelang. Saya ingin membuat rumah seni di sekitar perkampungan di dekat Candi Borobudur. Itu cita-cita saya, Pak.”
***

MELUKIS dan melukis. Waktuku terisi dengan melukis dengan melukis di studio berukuran 4 x 6 meter persegi yang kubangun di sebelah selatan rumah. Ini bulan kesembilan aku kembali akrab dengan tanah kelahiranku. Entah kenapa akhir-akhir ini aku ingin melukis penari Bali dengan latar belakang warna dominan merah. Wajah sang penari, terutama pada dagu dan matanya agak mirip Bu Ning. Setiap melukis penari lain dengan gaya taian lain selalu dagu dan mata Bu Ning yang muncul dalam lukisanku. Tiga lukisan aku jejerka menyamping. Tak bisa kupingkir, aku rindu Bun Ning.
Melamun dan membiarkan suara mobil berhenti di depan rumah. Ah paling adik sepupuku yang rajin berkunjung. Tapi….
”Hai, Bu Ning! Waduh apa kabar Bu? Wah sampai juga di gubuk saya ya.“
Bu Ning tidak menjawab. Ia tersenyum. Wajahnya memancarkan kegembiraan dan sekilas aku melihat matanya rindu kepadaku.
”Ibu ke sini dengan siapa?”
”Sendiri. Menyewa taksi. Cuma sebentar saja, yang penting sudah jumpa kamu. Aku udah bilang ke Bapak, mau beli lukisanmu satu atau dua lukisan.”
”Silakan, Bu. Pilih saja tidak usah beli. Hadiah dari saya untuk Ibu.“
Bu Ning mengamati satu-satu lukisan yang tertawa rapi di studioku. Ia berhenti di tiga lukisan yang tadi sempat kujejerkan. Ia tekun mengamati, sambil sesekali melirik ke arahku.
”Aku belum pernah belajar menari. Kamu melukis aku, Son? Bisa juga ya kamu mengkhayal aku bisa menari Bali. Tiga tarian lagi!“
”Bu Ning….“ Tak ada yang bisa aku katakan. Bingung akan bilang apa.
”Oke, Son. Aku ambil satu yang tengah. Yang satu aku ambil lukisan Bukit Menoreh itu.“
Kenapa aku jadi berdebar-debar. Lama aku tidak pernah jatuh cinta sejak Yuri Takeda, pacarku yang asli Jpeang menikah dengan lelaki Jepang. Orangtuanya tidak setuju denganku yang asli Indonesia. Ada Bu Ning di depanku, rasa yang pernah kualami muncul lagi.
”Ya, Bu. Silakan. Akan saya panggilkan Trimo pegawai saya untuk membungkus dua lukisan ini.“
”Berapa harga dua lukisanmu itu? Bapak tanya nih?“
”Hehe… tidak usah bayar Bu. Saya ingin berikan untuk Bapak dan Bu Ning. Sebagai kador Natal dan sekaligus kado pensiun untuk Bapak.“
”Benar nih Son? Baik. Terima ya kado natalnya. Aku pulang, langsung ke Bandara. Jam empat sore take off.“
”Bu Ning langsung ke Jakarta? Salam saya untuk Bapak. Jika ada waktu, saya akan mampir ke Jakarta.”
”Son, benarya, kalau ke Jakarta kamu harus mampir. Aku suka ada tiga wajahku muncul di lukisanmu. Oke, sampai jumpa Son!“ Bu Ning menjabat tanganku dan memelukku sekitar lima detik. Aku terkejut dan tidak berani membalas pelukannya.
Ketika masuk ke dalam taksi, Bu Ning tersenyum dan berkaca-kaca matanya. Ia melambaikan tangannya tanpa bersemangat. Aku juga ternyata melakukan hal sama.
***

TRIMO sudah membuatkan aku kopi panas, dan meletakkan koran pagi di sebelah cangkir. Berita utamanya kecelakaan di bandara. Sebuah pesawat yang hendak tinggal landas pukul 16.00 terbakar. Api menyala dari ekor pesawat, menjalar cepat membakar badan pesawat bagian belakang. Sebanyak 119 orang selamat, seorang awak kabin dan 20 penumpang meninggal dunia. Seorang awak kabin dan 11 penumpang luka berat. Sambil membaca perasaanku sangat galau, tidak enak!
Satu penumpang yang tewas dan sudah dikenali bernama Ningtyasih Arum!
“Bu Ning….” Langsung kusebut namanya.
Tanpa sadar koran yang kupegang kuremas-remas dan semakin erat kugenggam! Lukisanku mengiringi kepergiannya menghadap Tuhan. Ingat bunga sakura yang dilempar ke pundakku. Ingat pelukan lima detik. Ingat senyumnya. Ingat lambaian tangannya di balik kaca taksi. Aku ingat kamu, Bu Ning!
Telepon genggam berdering. Dari bapak, suami Bu Ning. Terbata-bata beliau mengabarkan kecelakaan yang menimpa istrinya. Pagi ini sudah di Yogyakarta menjemput jenasah istrinya.
”Ya, Pak! Saya akan segera ke sana. Saya akan menemani Bapak sampai Jakarta.” • (k)

Gang Mijil Manukan Concat, Desember 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Maria Widy Aryani
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 25 Desember 2016

PARADESASI PUISI PENA KARTINI


Nia Samsihono
LELAKI

Di ujung badik ia tempatkan jiwa
Melukis alam menggaris cakrawala
Tiba angin timur menghembus lautan
Saatnya berlayar arungi samudra

Lelaki hadapi kehidupan fana
Menantang cuaca tegakkan dada
Menjadi anutan para jejaka
Melangkah ke hiruk-pikuk persada

O, lelakiku jelmaan dewa
Di tanganmu kita menunggu
menjadi saksi bisu
Pergolakan abadi manusia

(Terinspirasi mas Remmy Masinambouw puisi "Lelaki yang Berdiri di Ujung Badik")



Julia Utami
SILAKAN

Mei sudah pamit
Ujungnya meninggalkan suka
Tak menampik, duka ikut mengiringi

Kuditambahkan satu umur lagi
Namun ada yang diam-diam meninggalkanku
Tinggallah aku menyatu dengan angin dan udara

Kita tak lagi menapak di tanah yang sama
Tuk menziarahi lukisan kehidupan fana ini
Kau asyik dengan lukisanmu sendiri

Sementara di ujung ...
Sepi setia merenda harinya
Memintal kasih menyongsong nasibnya

Julia Daniel Kotan, 02062019



Dhenok Kristianti
BERGURULAH PADA RAJAWALI

Sebelum cuaca memburuk, bergurulah pada rajawali
Di atas angin ribut ia bentangkan sayap
Terbang menunggang badai,
mengurai gumpalan hitam yang menghadang
Tak sirna nyalinya di ketinggian yang hampa,
 meski sunyi,
 meski sendiri
Ia abai pada yang menertawakan tekadnya
Yang membujuk untuk menyerah,
atau pasrah pada angin yang setiap detik berubah arah

Bergurulah pada rajawali
yang menjadi juru mudi atas keyakinan hati
Seandainya musim mempermainkan hari,
rajawali yang terlatih menaklukkan badai,
tak mudah baginya kehilangan kendali!



Ummi Azzura Wijana
PRAGAK MUSIM KEMARAU

Ruang tamu tinggal meja
Kursi, dan toples rengginan
Tak juga kau, dadaku pun
Hanya menjadi rumah petualang

Betapa kesendirianku tak ubah hantu
Hingga wajahku takut bercermin
Pada kaca hati bertirai sarang laba-laba

Senampak tanah Pragak musim kemarau
Retak-retak matahariku di hulu waktu

Magelang, 2016-2019

RINI DAN SERUNI DI PPN XI KUDUS

Pada tanggal 28-30 Juni 2019, Pertemuan Penyair Nusantara XI akan diselenggarakan di Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Dalam event tersebut, dua penyair wanita "Pena Kartini" yaki Rini Intama dan Seruni Unie mendapat undangan sebagai peserta sesudah karya-karyanya lolos seleksi. Selanjutnya mari kita cermati keunggulan karya Rini dan Seruni yang dapat menjadi bahan pembelajaran dalam penciptaan puisi.


Rini Intama
LIMA NOVEMBER

Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun
Suara ibu memanggilku hingga suara serak berdahak
Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak
Secangkir air mata panas tumpah menyiram hatiku

Malam, kutanya di mana ibu?
Ayah berbisik, sudah di surga sore tadi nak.

November 2010


WAJAH AYU IBUKU 

bias cahaya dan renungan yang kubaca di atas batu
tentang wajah ayu ibuku
ada garis warna dan sunyi pada lagu ketika kanakkanak dulu
dialah tembang jiwa yang paling murni
Wajah ayu ibuku
aku pernah bersemayam dengan nyaman di rahimnya yang kupinjam
hingga menghisap air susunya yang kemudian berubah menjadi darah
mengaliri nadi dalam detaknya yang sempurna
selalu terselip doa pengantar mimpiku di bawah bantal tidur
doa yang menebar wangi ribuan bunga
wajah ayu ibuku melintaslintas di mana aku ada


Seruni Unie
RAHASIA IBU

Jangan lagi tanya soal bapak, Ngger.
Satu saat kau akan paham
Kenapa ibu memilih bungkam
Tak berkisah perihal masa lalu
Siapa dan di mana bapakmu?
Cukup, ibu simpan semua
Bahwa kau lahir dari benih luka
Dari malam yang nyeri
Dari sunyi yang tak manusiawi

Satu saat kau paham, Ngger
Tentang ketakadilan ini
Dan rasa sakit bernama aib
Ketika waktu melecehkan
Mengoyak kehormatan
Menjadikanmu haram …

Solo, 2015

LANGGAM SUNYI
: mengenang Vanera El Arj

Maaf El, bila aku tak ingin menulis sajak. Dikepulanganmu yang sontak. Pagi terlalu dini untuk dipahami.

Sementara pertemuan kita hanya selarik sunyi. Tak terbaca oleh diksi tak berlanjut lewat spasi.

Lift, meja makan dan ruang seminar menjadi sejarah diam. sebagai baris awal sekaligus pungkasan.

Waktu begitu lihai berteka-teki. menggraffiti  usia tanpa kompromi.

Maaf El, aku memilih bisu, tanpa ingin membingkai namamu dengan pita ungu. Apalagi kalimat kelu. Cukuplah langit berlanggam, mengiringi deras doa.

: berlinang

Solo, 2015

Sunday, June 2, 2019

PUISI RINI INTAMA

http://ummurumaysa.blogspot.com

Rini Intama
SENYUM LANGIT MENGGODAKU

ikat aku dengan ekor matamu

ditengah malam hiruk pikuk hingga menjelang pagi
ditengah gulita genggam ujung jemarimu
ketika senyum langit terus menggoda
lantas bulan bertanya, inikah yang kau nanti?
teriakan histeris!
abaikan benderang bintang
meluruh gemuruh
mengendap geliat
menjunjung haru

senyum langit tak bergeming

PUISI YANWI MUDRIKAH

https://toptier.id

Yanwi Mudrikah
DI STASIUN BALAPAN
(Solo)

kereta datang
kereta pulang
orang-orang hilir mudik

hujan tambah deras
hati-ku kian mengeras
pertemuan pun menjadi pertempuran

orang-orang datang
orang-orang pulang
menunggu kereta tujuan

tiba-tiba aku ingat nasehat para pendahulu
dan cerita orang jaman dulu
bahwa urip kuwe urup (hidup itu menyala)

kereta datang
kereta pulang
di stasiun balapan

darmakradenan, 18 maret 2019