Pada tanggal 28-30 Juni 2019, Pertemuan Penyair Nusantara XI akan diselenggarakan di Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Dalam event tersebut, dua penyair wanita "Pena Kartini" yaki Rini Intama dan Seruni Unie mendapat undangan sebagai peserta sesudah karya-karyanya lolos seleksi. Selanjutnya mari kita cermati keunggulan karya Rini dan Seruni yang dapat menjadi bahan pembelajaran dalam penciptaan puisi.
Rini Intama
LIMA NOVEMBER
Lupa pada warna senja yang sebentar lagi turun
Suara ibu memanggilku hingga suara serak berdahak
Lamat menghilang dalam pekat awan yang berserak
Secangkir air mata panas tumpah menyiram hatiku
Malam, kutanya di mana ibu?
Ayah berbisik, sudah di surga sore tadi nak.
November 2010
WAJAH AYU IBUKU
bias cahaya dan renungan yang kubaca di atas batu
tentang wajah ayu ibuku
ada garis warna dan sunyi pada lagu ketika kanakkanak dulu
dialah tembang jiwa yang paling murni
Wajah ayu ibuku
aku pernah bersemayam dengan nyaman di rahimnya yang kupinjam
hingga menghisap air susunya yang kemudian berubah menjadi darah
mengaliri nadi dalam detaknya yang sempurna
selalu terselip doa pengantar mimpiku di bawah bantal tidur
doa yang menebar wangi ribuan bunga
wajah ayu ibuku melintaslintas di mana aku ada
Seruni Unie
RAHASIA IBU
Jangan lagi tanya soal bapak, Ngger.
Satu saat kau akan paham
Kenapa ibu memilih bungkam
Tak berkisah perihal masa lalu
Siapa dan di mana bapakmu?
Cukup, ibu simpan semua
Bahwa kau lahir dari benih luka
Dari malam yang nyeri
Dari sunyi yang tak manusiawi
Satu saat kau paham, Ngger
Tentang ketakadilan ini
Dan rasa sakit bernama aib
Ketika waktu melecehkan
Mengoyak kehormatan
Menjadikanmu haram …
Solo, 2015
LANGGAM SUNYI
: mengenang Vanera El Arj
Maaf El, bila aku tak ingin menulis sajak. Dikepulanganmu yang sontak. Pagi terlalu dini untuk dipahami.
Sementara pertemuan kita hanya selarik sunyi. Tak terbaca oleh diksi tak berlanjut lewat spasi.
Lift, meja makan dan ruang seminar menjadi sejarah diam. sebagai baris awal sekaligus pungkasan.
Waktu begitu lihai berteka-teki. menggraffiti usia tanpa kompromi.
Maaf El, aku memilih bisu, tanpa ingin membingkai namamu dengan pita ungu. Apalagi kalimat kelu. Cukuplah langit berlanggam, mengiringi deras doa.
: berlinang
Solo, 2015


No comments:
Post a Comment