Monday, June 3, 2019

PARADESASI PUISI PENA KARTINI


Nia Samsihono
LELAKI

Di ujung badik ia tempatkan jiwa
Melukis alam menggaris cakrawala
Tiba angin timur menghembus lautan
Saatnya berlayar arungi samudra

Lelaki hadapi kehidupan fana
Menantang cuaca tegakkan dada
Menjadi anutan para jejaka
Melangkah ke hiruk-pikuk persada

O, lelakiku jelmaan dewa
Di tanganmu kita menunggu
menjadi saksi bisu
Pergolakan abadi manusia

(Terinspirasi mas Remmy Masinambouw puisi "Lelaki yang Berdiri di Ujung Badik")



Julia Utami
SILAKAN

Mei sudah pamit
Ujungnya meninggalkan suka
Tak menampik, duka ikut mengiringi

Kuditambahkan satu umur lagi
Namun ada yang diam-diam meninggalkanku
Tinggallah aku menyatu dengan angin dan udara

Kita tak lagi menapak di tanah yang sama
Tuk menziarahi lukisan kehidupan fana ini
Kau asyik dengan lukisanmu sendiri

Sementara di ujung ...
Sepi setia merenda harinya
Memintal kasih menyongsong nasibnya

Julia Daniel Kotan, 02062019



Dhenok Kristianti
BERGURULAH PADA RAJAWALI

Sebelum cuaca memburuk, bergurulah pada rajawali
Di atas angin ribut ia bentangkan sayap
Terbang menunggang badai,
mengurai gumpalan hitam yang menghadang
Tak sirna nyalinya di ketinggian yang hampa,
 meski sunyi,
 meski sendiri
Ia abai pada yang menertawakan tekadnya
Yang membujuk untuk menyerah,
atau pasrah pada angin yang setiap detik berubah arah

Bergurulah pada rajawali
yang menjadi juru mudi atas keyakinan hati
Seandainya musim mempermainkan hari,
rajawali yang terlatih menaklukkan badai,
tak mudah baginya kehilangan kendali!



Ummi Azzura Wijana
PRAGAK MUSIM KEMARAU

Ruang tamu tinggal meja
Kursi, dan toples rengginan
Tak juga kau, dadaku pun
Hanya menjadi rumah petualang

Betapa kesendirianku tak ubah hantu
Hingga wajahku takut bercermin
Pada kaca hati bertirai sarang laba-laba

Senampak tanah Pragak musim kemarau
Retak-retak matahariku di hulu waktu

Magelang, 2016-2019

No comments:

Post a Comment