Komunitas Sastrawan Wanita Indoensia "Pena Kartini" merupakan komunitas penyair wanita yang beranggotakan: Dhenok Kristianti, Rini Intama, Serüni Unié, Ummi Azzura Wijana, Rita Orbaningrum, Ni Putu Putri Suastini, Julia Utami, Purna Aprianti, Puspo Endah, Yanwi Mudrikah, Ewith Bahar, Deasy Tirayoh, Ninuk Retno Raras, Ratna Dewi Barrie, Waty Sumiati Halim, Lies Aryati, Yeni Fatmawati, Erni Novalisa, Frieda Amran, Dyah Tinggeng, Nia Samsihono, dan Lily Siti Multatuliana SutanIskandar.
Monday, June 3, 2019
PARADESASI PUISI PENA KARTINI
Nia Samsihono
LELAKI
Di ujung badik ia tempatkan jiwa
Melukis alam menggaris cakrawala
Tiba angin timur menghembus lautan
Saatnya berlayar arungi samudra
Lelaki hadapi kehidupan fana
Menantang cuaca tegakkan dada
Menjadi anutan para jejaka
Melangkah ke hiruk-pikuk persada
O, lelakiku jelmaan dewa
Di tanganmu kita menunggu
menjadi saksi bisu
Pergolakan abadi manusia
(Terinspirasi mas Remmy Masinambouw puisi "Lelaki yang Berdiri di Ujung Badik")
Julia Utami
SILAKAN
Mei sudah pamit
Ujungnya meninggalkan suka
Tak menampik, duka ikut mengiringi
Kuditambahkan satu umur lagi
Namun ada yang diam-diam meninggalkanku
Tinggallah aku menyatu dengan angin dan udara
Kita tak lagi menapak di tanah yang sama
Tuk menziarahi lukisan kehidupan fana ini
Kau asyik dengan lukisanmu sendiri
Sementara di ujung ...
Sepi setia merenda harinya
Memintal kasih menyongsong nasibnya
Julia Daniel Kotan, 02062019
Dhenok Kristianti
BERGURULAH PADA RAJAWALI
Sebelum cuaca memburuk, bergurulah pada rajawali
Di atas angin ribut ia bentangkan sayap
Terbang menunggang badai,
mengurai gumpalan hitam yang menghadang
Tak sirna nyalinya di ketinggian yang hampa,
meski sunyi,
meski sendiri
Ia abai pada yang menertawakan tekadnya
Yang membujuk untuk menyerah,
atau pasrah pada angin yang setiap detik berubah arah
Bergurulah pada rajawali
yang menjadi juru mudi atas keyakinan hati
Seandainya musim mempermainkan hari,
rajawali yang terlatih menaklukkan badai,
tak mudah baginya kehilangan kendali!
Ummi Azzura Wijana
PRAGAK MUSIM KEMARAU
Ruang tamu tinggal meja
Kursi, dan toples rengginan
Tak juga kau, dadaku pun
Hanya menjadi rumah petualang
Betapa kesendirianku tak ubah hantu
Hingga wajahku takut bercermin
Pada kaca hati bertirai sarang laba-laba
Senampak tanah Pragak musim kemarau
Retak-retak matahariku di hulu waktu
Magelang, 2016-2019
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




No comments:
Post a Comment